Minggu, 13 Januari 2013

Pasca Tragedi Perkosaan, Masyarakat Desa India Larang Celana Jeans dan T-Shirt


Demi mencegah tindak perkosaan yang tengah marak di India, sebuah desa menerapkan larangan mengenakan t-shirt dan celana jeans bagi para wanita. Larangan ini ditentang oleh para pemudi, sementara orangtua mendukungnya seratus persen.


Diberitakan Daily Mail, larangan tersebut diberlakukan di desa Khedar, wilayah Hisar di sebelah barat laut India pada pekan ini. Selain dilarang memakai jeans dan t-shirt, para pemuda juga dilarang menggelar pesta yang menampilkan DJ dan minuman beralkohol.

Jika dilanggar, bisa mendapat denda hingga 11.000 rupee atau hampir Rp2 juta. Petinggi desa mengatakan, larangan ini diterapkan demi mencegah aksi kekerasan dan perkosaan terhadap wanita.

“Kami memutuskan melarang alkohol yang menjadi pemicu perkosaan. Kami juga melarang jeans dan t-shirt bagi wanita karena pakaian itu tidak pantas,” kata kepala desa Khedar, Sarpanch Shamser Singh, kepada Times of India.

Peraturan baru ini mendapatkan penentangan dari para pemuda dan pemudi desa. Namun, para sesepuh mengaku senang ada larangan tersebut. “Keputusan ini sangat bagus dan mencegah pelecehan terhadap wanita. Pakaian yang buruk adalah penyebab utama perkosaan,” kata seorang sepuh, Shanti Devi.

Isu perkosaan tengah menimbulkan ketegangan di India. Seorang mahasiswi di India tewas di rumah sakit Singapura setelah menjalani perawatan atas luka-luka yang dialaminya. Bersama teman prianya, wanita ini diperkosa dan disiksa beramai-ramai di dalam bus dan dilemparkan ke luar.

Kasus ini memicu demonstrasi besar di India terhadap lemahnya keadilan dan buruknya pelayanan polisi. Seorang polisi tewas dalam demonstrasi yang berlangsung ricuh di New Delhi.

Lima tersangka saat ini tengah menjalani proses pengadilan yang dilangsungkan secara tertutup. Lima tersangka pemerkosaan sadis terhadap seorang mahasiswi di India mulai diadili hari, Senin 7 Januari 2013. Kasus perkosaan ini jadi isu nasional di India saat ribuan massa turun ke jalan memprotes lemahnya hukum dan lalainya polisi di negeri tersebut.

Diberitakan Reuters, kelima tersangka dibawa ke pengadilan New Delhi dengan menggunakan van biru. Pengadilan perdana dijaga ketat aparat bersenjata, sementara ribuan orang turun ke jalan menuntut hukuman berat bagi para tersangka.

Menurut salah satu hakim, Namrita Aggarwal, pengadilan itu tertutup bagi media dan publik untuk memastikan keselamatan para tersangka. Sebelumnya, proses pengadilan sempat ricuh saat seorang pengacara menawarkan membela para tersangka. Tawaran ini lantas diteriaki dan dikecam pengacara lainnya yang mengatakan kelimanya tidak pantas dibela.

Kelima orang tersangka bernama Mukesh Kumar, Ram Singh, Akshay Thakur, Pawan Gupta dan Vinay Sharma. Dua dari tersangka, Vinay Sharma dan Pawan Gupta, bersedia memberikan bukti-bukti, demi meringankan hukuman.

Tiga orang lainnya telah didakwa atas pembunuhan, perkosaan dan penculikan. Para pengacara telah memperkirakan, hukuman bagi mereka tidak lain adalah hukuman mati. Seorang tersangka baru berusia 17 tahun dan akan diadili di pengadilan terpisah.