Minggu, 05 Agustus 2012

Muslim Rohingya Dibantai dan Diusir, Kata SBY itu Bukan Genosida?

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya berbicara soal konflik Myanmar. Namun pernyataan SBY tersebut justru tidak mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi terhadap muslim Rohingya di Myanmar.


SBY menyatakan bahwa tidak ada indikasi genosida terhadap kelompok minoritas Muslim Rohingya. "Sejauh ini tidak ada indikasi genosida," ujar Presiden SBY dalam keterangan pers di kediaman pribadinya di Cikeas, Kab. Bogor, Sabtu (4/8/2012).

Pernyataan SBY tersebut jelas amat bertentangan dengan fakta yang ada. Menurut Statuta Roma dan Undang-Undang no. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, genosida ialah Perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama dengan cara membunuh anggota kelompok; mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota kelompok; menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang menciptakan kemusnahan secara fisik sebagian atau seluruhnya; melakukan tindakan mencegah kelahiran dalam kelompok; memindahkan secara paksa anak-anak dalam kelompok ke kelompok lain.

Jika saja Presiden SBY bersikap jujur, indikasi genosida terhadap etnis Muslim Rohingya di Myanmar begitu jelas. Pimpinan delegasi Muslim Rohingya, Noor Husain Arakani di Mansoora, Pakistan mengatakan, warga Muslim Myanmar dipaksa untuk berpindah agama ke Budha. Jika menolak, maka mereka akan mendapat tindakan brutal.

"Mereka dipaksa untuk memakan daging babi dan minum minuman keras. Kasus pemerkosaan oleh gerombolan gang meningkat. Di beberapa tempat, orang-orang Muslim dibakar hidup-hidup. Mereka bahkan tidak diperbolehkan untuk menggunakan telepon seluler. Faktanya, pemerintah Myanmar ingin membersihkan Myanmar dari populasi Muslim," ungkapnya seperti dilansir The News International, Kamis (26/7/2012).

Hal senada juga diungkapkan salah seorang perwakilan Arakan Rohingya Union (ARO), Kamaruddin dalam pertemuan negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Malaysia.

Kamaruddin menjelaskan, Rohingya adalah bangsa minoritas yang paling teraniaya di dunia. Tidak ada negara yang mengakui padahal mereka telah mendiami daerah ini ratusan tahun.

"Junta mengusir kami, memperkosa perempuan-perempuan, merampas harta, dikejar bagai binatang, Bangladesh memusuhi kami, kami dari etnis mayoritas di provinsi Arkhine yang terdiri 17 kabupaten. Sekarang kami menjadi minoritas di negeri kami, tiada makanan untuk kami makan, walau untuk berbuka puasa, tiap hari dalam dua bulan ini korban meninggal kelaparan, dibunuh, disiksa dan lain-lain. Kain kafan pun tidak ada sehingga kami kebumikan dengan apa adanya," kata Kamaruddin, Jumat (3/8/2012).

Apalagi upaya pengusiran secara terang-terangan terhadap Muslim Rohingya didalangi oleh pemerintah Myanmar sendiri.

Presiden Myanmar, Thein Sein mengatakan bahwa satu-satunya solusi untuk mengatasi konflik Muslim dan Buddha di Myanmar adalah dengan mengusir Muslim Rohingya ke luar Myanmar. Ia meminta Muslim Rohingya dikirim ke kamp pengungsi yang dikelola United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR).

"Kami akan mengusir mereka jika ada negara ketiga yang mau menerima mereka. Ini adalah solusi terbaik untuk masalah ini," ujar Presiden Myanmar, Thein Sein Kamis (12/7/2012).

Jadi berdasarkan fakta-fakta sebenarnya sulit dibantah adanya indikasi genosida terhadap muslim Rohingya, tapi hal itu justru tak diungkapkan Presiden SBY. [Ahmed Widad/dbs]