Jumat, 10 Agustus 2012

Inilah Bukti Nyata, Para Biksu Buddha Menabuh Genderang Perang!


Banyak fakta yang membuktikan, bahwa para biksu Budha pun membenci etnis Muslim Rohingya. Para biksu yang seharusnya meluruskan rezim yang zalim dan menenangkan umatnya untuk tidak membantai Muslim Rohingya, justru ikut andil dengan menggelar aksi anti-Rohingya pada ke warga Myanmar. Salah satu pamflet yang dibagikan bertulisan "rencana untuk membasmi etnis lain." Bahkan, ada segelintir biksu yang ikut-ikutan menyerang Muslim Rohingya, seperti kita saksikan di media maya.


Para pemuka agama itu juga memblokir bantuan kemanusiaan yang diberikan aktivis kemanusiaan untuk warga Rohingya. "Belakangan ini, biksu-biksu memainkan peranan untuk menolak bantuan asing yang ditujukan kepada warga Muslim. Mereka mendukung kebijakan Pemerintah Myanmar," ujar salah seorang anggota LSM Chris Lewa, seperti dikutip Independent, Rabu (25/7).

"Seorang anggota relawan di Sittwe mengatakan kepada saya bahwa biksu-biksu itu berada di dekat kamp Rohingya dan melakukan pemeriksaan. Mereka mengusir seluruh orang yang hendak memberikan bantuan ke warga Rohingya," tambahnya.

Kedua organisasi biksu terbesar di Myanmar, Assosiasi Biksu Muda Sittwe dan Mrauk juga menyerukan agar warga Myanmar tidak bergaul dengan Muslim Rohingya. Dalam sebuah pernyataannya, para biksu itu mendesak warga setempat agar tidak berkomunikasi dengan warga Rohingya. Sementara itu para pimpinan fraksi politik di Myanmar berupaya untuk mengusir 800 ribu warga minoritas itu dari Myanmar.

“Muslim Rohingya bukanlah kelompok etnis Burma. Mereka akar penyebab kekerasan,” kata salah seorang pemimpin biksu, Ashin Htawara dalam sebuah acara di London.

Direktur Kampanye Myanmar asal Inggris, Mark Farmaner secara terpisah mengatakan, dirinya terkejut dengan peranan para biksu. Mereka begitu agresif mendatangi kamp pengungsi dan memblokir setiap bantuan yang ada. “Kami sangat terkejut dengan masalah ini,” kata Farmaner.

Biksu Kok Anarkis

Dikabarkan pula, Utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk urusan HAM, Tomas Quintana mengunjungi lokasi kerusuhan yang terjadi antara warga Budha Myanmar dengan Muslim Rohingya. Kunjungannya itu diwarnai protes dari sekitar 100 warga Myanmar.

Biksu setempat U Arsi Ra mengatakan, sekitar 100 warga Budha Myanmar protes di kota Maungdaw saat PBB mengunjungi negara bagian Rakhine. Menurut Arsi Ra, para pendemo meminta badan PBB yang mengurusi pengungsi (UNHCR) untuk tidak melakukan diskriminasi antara warga Budha dan Muslim Myanmar.

Beberapa warga Budha terutama etnis Rakhine di Myanmar, menilai UNHCR bersikap bias dan berpihak kepada warga Muslim Rohingya. Mereka menilai hal ini disebabkan oleh PBB merekrut personilnya dari komunitas Muslim.

Sebelumnya pihak berwenang Myanmar menangkap beberapa staf UNHCR yang dicurigai memicu kerusuhan warga Budha-Muslim yang menewaskan lebih dari 70 orang. Sementara aktivis Budha mendesak ditegakannya keadilan bagi seluruh korban kerusuhan yang terjadi Juni lalu.

Aktivis HAM internasional telah melaporkan bahwa pihak berwenang Myanmar melakukan tindakan kekerasan terhadap Muslim Rohingya dan beberapa komunitas minoritas Muslim lainnya.

Sangat jelas, biarawan Myanmar disebut turut andil menyebarkan kebencian terhadap Muslim Rohingya, seperti dilaporkan LSM lokal, Arakan Project, Jumat (27/7). Desastian/dbs