Selasa, 18 September 2012

Di Malaysia dan Brunei, Meski Berhubungan dengan Iran, Syiah Dilarang


Ada beberapa rekomendasi yang diberikan Ulama kepada Pemerintah, terkait aliran sesat Syiah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah. Setidaknya, ulama Ahlusunnah Waljamaah memberikan warning akan bahaya Syiah dari sisi Hankamnas dan Pancasila.  Hal itu terungkap dalam Tabligh Akbar “Mengokohkan Ahlusunnah Waljamaah di Indonesia” di Masjid Al Furqon, Gedung DDII, Jakarta, Ahad (16/9) kemarin.


Berbeda dengan aliran sesat yang lain, aliran sesat Syiah mempunyai jaringan Internasional yang terorganisir. Oleh karena itu penanganannya agak berat apabila hanya dilakukan oleh para ulama, tapi turun tangan pemerintah dalam masalah Syiah sangat diharapkan.

“Pemerintah punya pengalaman dalam menghadapi bahaya komunisme di Indonesia, walaupun kita tetap berhubungan dengan Rusia dan RRT, tapi faham komunisme dilarang di Indonesia. Sama seperti di Malaysia dan Brunei, meskipun mereka berhubungan dengan Iran, tapi aliran Syiah dilarang di Malaysia dan Brunei,” ungkap Ketua Bidang Organisasi Al-Bayyinat, Habib Achmad Zein Alkaf.

Habi Zein AlKaf menghimbau kepada pemerintah agar secepatnya mengambil sikap yang tegas kepada mereka. Di dunia ini tidak ada satu Negara yang berada dalam keadaan aman dan tentram, apabila dinegara tersebut berkembang aliran Syiah.

“Sekarang tinggal pemerintah yang mengambil keputusan, apakah pemerintah masih akan membiarkan ajaran yang bertentangan dengan Pancasila berkembang terus di bumi pertiwi ini? Apakah pemerintah akan membiarkan paham yang sangat meresahkan masyarakat dan merusak persatuan dan kesatuan dan bangsa kita? Apakah pemerintah akan membiarkan gerakan Syiah yang jelas dapat membahayakan NKRI?” tegas Habib Zein.

Sekarang,  lanjut Habib Zein, bola ada ditangan pemerintah. Namun dalam hal ini, pemerintah harus bertanggungjawab, apabila sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.

Jika mau jujur, pemerintah sebenarnya sudah mencium adanya keresahan di masyarakat dari akibat penyebaran aliran sesat Syiah di Indonesia. Karena itu, pemerintah sudah berulang kali, baik melalui MUI maupun aparat di daerah, untuk menyerukan agar masyarakat mewaspadai aliran Syiah.

Pemerintah juga menyadari, apabila pemerintah tidak cepat bertindak, maka pemerintah akan kewalahan dan tidak bisa berbuat banyak. Hanya saja pemerintah masih menunggu waktu yang tepat untu bertindak. Bahkan, aparat pemerintah sudah mengantongi nama-nama aktivis mereka.

Syiah Bukan Islam

Habib Zein Alkaf pernah ditanya dan diminta memberi masukan oleh pihak Mabes Polri terkait bahaya Syiah. Habib kemudian menjelaskan, dari sisi agama, para Ulama Islam sepakat bahwa ajaran Syiah Imamiyyah Itsna ‘asyariyyah (ahlul bait atau Syiah Ja’fariyah atau Khomainiyah), yang berpusat di Iran dan sedang dikembangkan di Indonesia itu sesat dan keluar dari Islam (kafir).

“Indonesia ini adalah bumi Ahlusunnah Waljamaah, meskipun mereka terpecah dalam berbagai ormas Islam, ada NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Rabithah Alawiyah dan lain-lain, tapi mereka adalah keluarga besar Ahlusunnah Waljamaah,” kata Habib.

Ada kekhawatiran yang mendalam, berkembangnya Syiah di Indonesia, bisa memicu apa yang terjadi di Iraq, Bahrain, Yaman, Pakistan, dan di kawasan Timur Tengah lainnya, yaitu saling bunuh antara Ahlusunnah dengan Syiah akan terjadi di Indonesia.

Di kalangan Ahlusunnah Waljamaah,  para sahabat, istri-istri Rasulullah Saw dan para Imam Ahlusunnah sangat dihormati dan dijunjung tinggi kehormatannya. Namun, setelah kedatangan orang-orang Syiah dari Iran atau orang-orang Indonesia  yang sudah dikader di Iran, kerap mencaci maki pemimpin-pemimpin kita yang selama ini jadi panutan. Bahkan, mereka mengkafirkan dan murtadkan di luar Syiah. Istri Nabi Saw, seperti Siti Aisyah, misalnya, mereka katakan telah bebuat serong.

Celaan ini membuat masyarakat sesah, sehingga tidak bisa menerima apa yang mereka ucapkan. “Bagaimana kita akan tinggal diam menerima kekurang ajaran mereka.  

Sampai sekarang, mereka masih mempropagandakan ajaran Syiah melalui buku-buku dan door to door secara sembunyi-sembunyi. Apabila meraka merasa sudah kuat, mereka tak sungkan lagi untu mencela sahabat dan istri-istri nabi.

“Ketahuilah, sesungguhnya Allah Swt membela Aisyah, ketika kaum munafik menuduh Aisyah telah berbuat serong. Seperti dijelaskan dalam QS. An-Nur, Allah menolak tuduhan  kaum munafiqin terhadap Aisyah ra. Ini, menujukkan, Syiah bukan hanya dianggap sesat, tapi keluar dari Islam, yang menyebut Aisyah telah berbuat serong.”

Di Iran sendiri, penduduk Sunni mencapai 20 juta jiwa, namun mereka hidup tertekan. Tak sedikit ulama Sunni banyak yang didekam dalam penjara, madrasah dan masjid Suni diratakan, bahkan di berapa kota, orang Sunni dilarang membangun masjid.

“Mereka itu lebih kejam dan biadab daripada kaum kuffar yang menyerang Islam. Banyak bukti yang menunjukkan terjadinya pertengkaran dan perpecahan antara ayah dengan anaknya, suami dengan istrinya, kakak dengan adiknya, ibu dengan anaknya, guru dengan muridnya, seseorang dengan teman dan tetangganya. Sehingga banyak rumah tangga yang dulu harmonis menjadi berantakan, suasana perkampungan yang sebelumnya saling sapa dan memberikan salam, menjadi saling bermusuhan. Desastian