Minggu, 07 Oktober 2012

Publik Bertanya, #KemanaPresiden?


Timeline twitter sejak Jumat (5/10) malam dihebohkan oleh twit-twit dengan hashtag #KemanaPresiden. Bahkan, hashtag ini sempat beberapa saat menjadi trending topic. Jelas, ini terkait heboh penyerbuan gedung KPK di Kuningan, Jakarta Selatan oleh polisi, malam itu.


Lagi-lagi publik disuguhi sebuah tragikomiko. Dagelan yang bukannya membuat tertawa, tapi justru menguras air mata. Pertarungan tidak sehat ala Cicak Vs Buaya terulang kembali. Kali ini, Semut alias publik, membekingi KPK.

KPK merasa dikriminalisasi oleh polisi lantaran salah satu penyidik seniornya yang berasal dari kepolisian akan ditangkap atas tuduhan melakukan tindak pidana 8 tahun lalu.

Sebuah akun Twitter @SamadAbraham, yang turut menjadi pusat perhatian dari hashtag #KemanaPresiden memulai kicauannya,

“Kriminalisasi terhadap KPK sudah dilakukan bukan oleh oknum kepolisian tapi sudah oleh institusi POLRI itu sendiri,” kicaunya.

Sementara polisi bersikeras tindakannya bukan kriminalisasi atas KPK. Tetapi, murni karena ada tindak pidana yang dilakukan penyidik KPK, Kompol Novel Baswedan semasa menjabat Kasat Reskrim Polres Bengkulu dengan pangkat Iptu, 8 tahun lalu.

Para pimpinan KPK pasang badan melindungi Kompol Novel. Publik dengan kekuatan berbicara bebasnya di social media bergerak dengan hashtag #SaveKPK berdiri di belakang KPK. Mereka muak dengan arogansi Polri yang berdalih penegakan hukum.

Sungguh sebuah pertunjukan yang menyesakkan dada. Dua lembaga penegakan hukum bertarung bebas. Lebih memalukan dari tawuran pelajar di jalanan. Sementara para koruptor yang semestinya mereka libas, terbahak-bahak menyaksikan dagelan yang tidak lucu itu.

Siapa yang bisa menengahi? Presiden! Cuma presiden yang punya kewenangan menghentikan pertunjukan memalukan ini. Tetapi tak kunjung ada secuil kalimat pun keluar dari mulut sang kepala negara. Pantas jika publik bertanya di twitter: #KemanaPresiden ?

Istana melalui jubirnya, Julian A Pasha beralasan, tak semua hal perlu dikomentari Presiden. Presiden, kata Julian, juga sudah menugasi Menko Polhukam untuk menyelesaikan masalah ini. Namun, seruan Menko Polhukam kepada Kapolri agar menarik pasukannya dari KPK Jumat malam tak dihiraukan.

Julian juga menepis kekhawatiran akan terulangnya tragedi Cicak vs Buaya.

“Ini bukan yang pertama ketegangan sehat antara KPK dan Polisi,” kata Jubir Presiden.

Sehat? Publik bisa dengan cepat menilai ini adalah pernyataan yang sakit dari seorang jubir istana.

Kemana Presiden? Abraham Samad bahkan dengan geram telah mempertanyakan posisi Presiden yang membiarkan Polri menyalahgunakan otoritasnya untuk meneror KPK.

“Sumpah Presiden yang akan memimpin pemberantasan korupsi dan berada di garda depan dalam upaya tsb adalah omong kosong,” kicau @SamadAbraham.

Akun @SamadAbraham seolah mewakili keheranan publik atas sikap diam Presiden.

“Diamnya Presiden membuat saya curiga. Jangan-jangan dia atau anggota keluarganya disandera oleh Polri terkait suatu kasus,” twitnya lagi.