Jumat, 06 Januari 2012

Beda Selebritis, Kiayi, Ustadz, Ulama, dan Mufti Menurut Ustadz Ahmad Sarwat


Persoalan ustadz-ustadz di televisi yang berlagak seperti selebritis memancing komentar dari berbagai pihak. Setelah sebelumnya Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengkritisi sejumlah ustadz di televisi, kini giliran Ustadz Ahmad Sarwat yang memberikan kritik serupa. Sebelumnya, beliau telah menyebutkan 12 Perbedaan Ustadz Yang Artis dan Ustadz Beneran.


Dalam status Facebook-nya per tanggal 22/11/2011, Ustadz Ahmad Sarwat kembali mengeluarkan statemen yang mengkritisi kondisi masyarakat yang tidak bisa membedakan berbagai istilah keagamaan.
“Dalam dunia kesehatan ada pembedaan terminologi yang jelas. Mulai dari tukang obat, paranormal, dukun, bidan, perawat, mantri, dokter, dokter spesialis, dan seterusnya. Tapi dalam dunia agama, masyarakat nyaris tidak bisa membedakan dan juga tidak tahu perbedaan antara penceramah, da’i, mubaligh, ustadz, kiayi, ulama, mufti, mujtahid, dan seterusnya. Pokoknya begitu ada orang pandai ceramah, langsung dipanggil ‘ustadz,’” paparnya.

Kemudian beliau menerangkan perbedaan istilah-istilah di dalam dunia kedokteran.

“Jelas sekali perbedaan tukang obat dengan dokter spesialis. Modalnya tukang obat ya cuap-cuap sambil dikit-dikit ngibul, ngakunya punya obat yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Tapi dokter spesialis, modalnya adalah belajar tekun bertahun-tahun, dan hanya mereka yang gila belajar saja yang lulus diterima jadi mahasiswa di FK (Fakultas Kedokteran).”

Setelah itu, beliau memaparkan persoalan dalam istilah-istilah keislaman.

“Nah, bedanya orang yang biasa dipanggil dengan sebutan ustadz dengan tukang ceramah apa? Harus ada bedanya dong. Tukang ceramah itu bermodal pandai ngomong, bergaya, bikin yel-yel, terus pura-pura doa yang bisa bikin hadirin menangis, dan seterusnya, dan seterusnya. Harusnya ustadz bukan tipe yang seperti itu. Ustadz itu minimal tiap hari baca 100-200 halaman kitab syariah, spt tafsir, hadits, fiqih, dan lain-lain.”
Beliau menyebutkan beberapa istilah untuk diketahui masyarakat umum.

Ustadz itu hanya boleh dipersembahkan kepada para ahli ilmu agama dengan kapasistas ilmu yang mumpuni serta standar moral yang tinggi. Bukan seleb dipoles oleh tv dan tiba-tiba simsalabim jadi ustadz. Dalam pandangan saya, itu cara ilegal dalam merusak umat, sebuah inovasi terbaru dari gaya lama belanda ketika mengorbitkan Dr. Snouck Hurgronje untuk mengobok-obok umat Islam dari dalam.

Kiyai, lebih merupakan panggilan penuh hormat kepada orang yang lebih dituakan. Dalam beberapa komunitas sosok kiyai memang tidak selalu harus ahli agama. Sebab di jojga ada sapi dipanggil dengan sebutan kiyai. Tapi kalau di dalam kultur pesantren, kiyai biasanya panggilan buat sosok yang sangat dihormati, seperti kiyai pondok, meski tidak berarti dia ahli dalam ilmu agama.

Ulama, ahli ijitihad yang memenuhi semua syarat dalam melakukan proses ijtihad. Contohnya Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad bin Hanbal dan para muridnya. Sedangkan ulama di masa sekarang, sebenarnya boleh dibilang hampir sudah tidak ada lagi. Kalau pun ada yang kita sebut ulama, lebih merupakan panggilan penghargaan saja.

Mufti,  ahli ilmu agama yang ilmunya sangat luas, dimana tugasnya adalah menjawab pertanyaan masyarakat tentang halal haram dan sebagainya. Mufiti harusnya seorang dengan kapasitas ilmu seperti para ulama, agar dia tidak sesat dan menyesatkan.

Dalam mencontohkan ustadz di televisi yang lebih suka menarik massa, beliau menganalogikannya dengan tukan jual obat di pinggir jalan.

“Yang saya maksud dengan tukang obat ya itu, yang suka gelar dagangan di pinggir jalan, bikin kerumunan massa di terminal, mirip film Benyamin Tukang Ngibul,” kata beliau sembari bercanda.

“Masyarakat awam lebih tertarik berkerumun di sekitar tukang obat yang pandai ngibul itu. Karena bicaranya sangat meyakinkan, kayak ilmunya jauh di atas para dokter. Gila nggak, mereka bilang kanker separah apapun, asal pakai obatnya dia, PASTI LANGSUNG SEMBUH! Padahal di RS (Rumah Sakit), para dokter ahli yang botak-botak itu masih kebingungan gimana melawan penyakit itu. Masyarakat awam lebih memilih tukang obat, mereka lebih suka PONARI dengan batu ajaibnya. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun..,” 

“Di dunia dakwah, keadaannya mirip banget. Masyarakat berkerumun di seputar para tukang ceramah TV alias seleb ngaku ustadz itu. Mungkin karena memang pandai bicara sehingga pengusaha TV itu memanfaatkannya untuk menaikkan rating. Dan produser infotainment punya bahan issue baru yang sensasional, yaitu para ustadz seleb yang mencoreng wajah dakwah. Gila banget tuh TV, para artis yang ngaku ustadz itu sering dikasih tag-line ULAMA!”

Tidak hanya mengkritisi para ustadz seleb tersebut, Ustadz Ahmad Sarwat juga mengkritisi para pemilik stasiun TV yang hanya mementingkan rating siaran, bahkan mempertuhankannya.
“Seolah-olah atas nama RATING TV orang jadi merasa berhak bicara apa saja meski pun isinya kebatilan. Huh benar-benar KAPITALIS MURNI. Dan ustadz dadakan alias seleb ngaku ustadz itu pun salah satu dampak negatif dari keberhalaan rating tv dan negara yang semakin jelas ideologi kapitalisnya.”
Setelah itu, beliau menuturkan salah satu solusi bagaimana dakwah di televisi tetap berada dalam koridor syariat Islam.

“Teman baik saya ada yang usul bahwa tiap orang yang mau tampil ceramah di TV harus punya SIC (Surat Izin Ceramah), tapi yang mengeluarkan bukan Koramil atau Polisi. Yang mengeluarkan surat itu, misalnya Majelis Ulama Indonesia (MUI). Jadi, para seleb itu musti dites berbagai hal, mulai dari kapasitas ilmu, sampai moral dan akhlaqnya juga. Baru boleh muncul di layar kaca. Dan ada komisi pemantau kelayakan penceramah TV, yang kerjanya menilai dan memantau mereka, dianggotai oleh para ulama betulan yang punya kapabilitas.”

Untuk benar-benar menjadikan ulama sebagai rujukan dalam hal keagamaan, bukan oleh para ustadz seleb, Ustadz Sarwat mengusulkan agar para ulama benar-benar diwadahi dalam lembaga yang independen.”
“Saya bilang gini aja, para ulama betulan itu membentuk seperti apa yang dulu pernah dilakukan di negeri kita, waktu banyak muncul pendakwah gadungan produk impor yang tidak jelas, kerjanya bikin keonaran disana-sini. Wadah itu tempat berkumpulnya para ulama betulan yang ilmunya memang paten. Wadah itu bukan milik pemerintah, tidak berlaku topdown yang melarang ini dan itu, tapi wadah itu murni milik umat dan bisa dijadikan indikator serta rujukan umat dalam masalah agama. Bahkan wadah itu bisa sampai mengirim delegasi ke Arab untuk menekan penguasa disana agar tidak mensupport para pendakwah yang bikin onar dimana-mana.”

Beliau, secara pribadi mendukung agar para ustadz tetap muncul di TV, media massa, ataupun media sosial. Namun, yang harus diperhatikan adalah bahwa dia itu adalah ustadz sesungguhnya, bukan abal-abal yang ngaku ustadz.

Sebagai contoh, beliau menyebutkan seringnya orang-orang yang ngaku ustadz itu berbicara tanpa dasar.
“Yang disampaikan oleh artis ngaku ustadz itu jauh dari hadits nabi. Sepanjang yang saya perhatikan, tak satu pun yang membawakan satu pun hadits dengan menyebutkan sanad dan matannya, apalagi al-hukmu ‘alal-hadits. kebanyakan asal cablak aja. Makanya, Kiyai Ali Mustafa Yaqub marah besar begitu tampil di TV dengar ada seleb ngaku ustadz ngutip-ngutip kalimat yang dia bilang hadits, ternyata bukan. Nah, menyampaikan hadits nabi saja harus punya ilmu hadits, apalagi ilmu syariah,” katanya.

http://www.fimadani.com