Sabtu, 02 Maret 2013

Uskup Agung India: Kaum Muslim Mengajari Saya Memulai Ibadah Pagi Hari


Uskup Agung India, Felix Machado mengatakan, sampai hari ini, praktik pluralisme agama masih banyak masalah.

“Pluralisme kalau diartikan sebagai toleransi tidak masalah, hanya saja yang menjadi masalah adalah kalau pluralisme itu sudah diartikan sebagai penyeragaman agama-agama. Saya pikir itu adalah pemahaman yang salah tentang pluralisme,”  demikian terangnya  pada hidayatullah.com, di sela-sela  acara Konferensi Pemimpin Kristen-Muslim Asia di Jakarta Pusat,  Kamis (8/02/2013).


Meski demikian, menurut  uskup  asal Mumbai ini, umat beragama tidak perlu takut pada pluralisme agama karena memang ajaran dan keyakinan setiap agama berbeda-beda.

“Kita tidak perlu takut, tidak seorang pun harus memiliki rasa takut bahwa kita akan kehilangan agama kita karena ada seseorang yang berasal dari agama lain dengan ajaran dan keyakinan yang berbeda,” terangnya.

Felix bahkan mengaku berterimakasih kepada umat Islam karena mengingatkannya akan ibadah dan perasaan memiliki pada agamanya sendiri.

“Sebenarnya, saya berterimakasih pada Tuhan, mereka (umat Islam, red.) ada, karena mereka bisa mengajari saya ketika mereka memulai ibadah di pagi hari (shalat shubuh, red.), mereka mengingatkan saya bahwa saya harus beribadah juga atau bahkan saat mereka berpuasa pada bulan Ramadhan. Mereka mengingatkan bahwa saya harus berpuasa juga. Ketika mereka ada perasaan memiliki pada agama mereka, saya juga harus punya perasaan memiliki pada agama saya,” ucapnya.

“Saya pikir kita harus menjadi saksi bagi agama kita,” tambah Felix.

Sementara itu,  pakar pluralisme agama, Dr. Anis Malik Thoha menegaskan umat Islam menegaskan jati diri kita sebagai seorang Muslim.

“Saya tidak tahu ya apakah beliau (Felix Machado, red) pernah mempelajari al-Qur’an atau tidak. Tapi apa yang disampaikannya bahwa kita harus menjadi saksi atas agama kita sendiri, tercantum dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 143,” jelas salah satu anggota Panel Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) ini kepada hidayatullah.com.

Menurut Anis, jati diri kita sebagai Muslim sebagai seorang yang beragama bukan untuk mengaburkan, melainkan semakin menegaskan.

Seperti diketahui,  lebih dari 100 perwakilan dari 16 negara Asia menghadiri konferensi mengambil tema “Bringing Common Word to Common Action”  yang diselenggarakan ICIS, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), didukung Federasi Konferensi Para Uskup se-Asia (Federation of Asian Bishops’ Conferences, FABC) dan Konferensi Kristen Asia (Christian Conference in Asia) ini.*