Rabu, 13 Maret 2013

Batal Penghargaan dari Amerika Setelah Twitternya Anti Yahudi


Akibat pesan di twitternya, seorang aktivis Mesir batal mendapatkan penghargaan dari Amerika yang menurut jadwal akan diberikan kepada Jumat depan di Washington.

Kementerian Luar Negeri Amerika, dikutip Pusat Informasi Palestina (PIC) mencabut nama aktivis Mesir, Samerah Ibrahim dari daftar 10 perempuan yang akan mendapatkan penghargaan dalam sebuah ajang penghargaan di departemen Amerika yang akan dihadiri oleh miss gedung putih Michael Obama.


Penghapusan nama ini diakibatkan postingan twitt Samirah di halaman pribadinya di Twitter selama beberapa bulan belakangan yang dinilai anti Amerika dan mendukung kekerasan terhadap Yahudi.

Sebelumnya, sebuah koran mingguan Amerika memuat judul “Michael Akan Beri Penghargaan Wanita Anti Semit” setelah aktivis wanita Mesir itu menyampaikan di halaman twitternya perasaan gembiranya atas terbunuhnya lima warga Yahudi dalam ledakan bus di Bulgaria.

“Wahai Tuhan yang memudahkan siang hari, hari ini sangat manis.” dalam twittnya. Twitt lainnya melalui lisan Hitler, “Semakin hari terbuka bahwa tak ada tindakan amoral dan tidak ada tindakan kejahatan terhadap masyarakat, kecuali Yahudi memainkan perannya di situ.” 
Serangan ke Masjid

Sementara itu, Yayasan Wakaf dan Peninggalan Islam “Al-Aqsha” mengatakan dalam pernyataan resminya hari ini Sabtu (09/03/2013) penggerebekan penjajah Zionis-Israel ke dalam Masjid Al-Aqsha Jumat (08/03/2013) sore dan tindakan kekerasan kepada jamaah shalat, termasuk kepada jamaah perempuan bertujuan untuk intimidasi agar tidak dimakmurkan dan mengurangi jumlah mereka.

Penjajah Zionis juga berusaha menghancurkan seluruh program membela masjid suci itu. Sebab selama ini yang menjadi Israel gusar adalah keberadaan jamaah shalat secara kontinyu di masjid tersebut setiap hari dan pagi-pagi di sana.

Zionis-Yahudi berusaha mengubah masjid Al-Aqsha menjadi arena konfrontasi. Hal itu dilakukan sebagai intimidasi bagi setiap yang berfikir datang ke Masjid Al-Aqsha untuk shalat, beribadah atau menimba ilmu di masjid tersebut. Penjajah zionis ingin agar para pecinta masjid Al-Aqsha dan pembelanya merasa terancam kekerasan oleh serdadu mereka.

Menurut Yayasan Al-Aqsha, tindakan penjajah zionis terutama pekan terakhir bukan spontanitas atau responsif namun tindakan itu dinilai sistematis untuk mengkondusifkan kekerasan demi mentarget capaian lebih besar terhadap Masjid Al-Aqsha. Bahkan yang mengagetkan jumlah pasukan dan cara serangannya lebih massif. Israel ini mengubah masjid menjadi barak militer, termasuk kekerasan terhadap tim medis,wartawan, penjaga masjid sebagai bukti ada target lebih besar yang ingin dicapai Zionis.*