Rabu, 15 Januari 2014

Sepenggal Kehidupan Yahya Ayyasy di Mata Sang Istri


yahya ayash Sepenggal Kehidupan Yahya Ayyasy di Mata Sang Istri
“DIA hanya berjalan di malam hari, di antara pohon-pohon, di pegunungan, mengenakan jaket hitam dan celana hitam. Dia tidak pernah menolak dalam hidupnya. Dia selalu menggunakan setiap kesempatan untuk datang melihat kami, meskipun mata-mata menyebar di mana-mana dan penjajah Zionis menunggunya setiap saat.”


Begitulah Ummu Bara menuturkan sebagian kehidupan sang arsitek pertama di Brigade al Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam Hamas, asy Syahid Yahya Ayyasy. Dia mengatakan, “Kami menghabiskan waktu selama lima tahun menjadi buron. Selama itu, jarang sekali muncul di siang hari. Itu adalah hari-hari yang sangat sulit. Tidak ada yang bisa dimakan, tidak ada pakaian bagus yang dikenakan. Seharipun dia tidak peduli dengan penampilannya. Obsesi terbesarnya adalah hanya menimpakan kerugian paling besar pada penjajah Zionis.”

Mengenang 18 tahun kepergian suaminya, Ummu Bara teringat beberapa peristiwa yang masih melekat dalam ingatannya di hari-hari sebagai buron. “Komandan (Zionis) yang menyerbu rumah kami masih saya ingat namanya, Sveka. Suatu kali mereka menyerbu rumah kami setelah aksi yang dilakukan Yahya di Tel Aviv. Mereka sangat liar dan brutal. Saat itu sang komandan berkata kepada saya, ketika kami nanti membunuh Yahya, saya akan mengikat tubuhnya dengan mobil saya dan saya seret di jalan-jalan Tel Aviv, setelah itu saya potong-potong tubunya menjadi bagian kecil-kecil untuk saya bagikan kepada semua keluarga ‘Israel’ yang anggota keluarganya dibunuh Yahya untuk mereka makan.”

Dalam pertemuan khusus dengan koresponden Pusat Informasi Palestina, Ummu Bara menambahkan, “Dia mengatakan hal itu untuk membuat ketakutan di hati kami. Tapi saya menjawabnya dengan mengatakan, jasad tidak penting bagi dia setelah apa yang dia dapatkan setelah kematiannya. Ruhnya akan naik ke langit di sisi Penciptanya dan akan damai. Saya berdoa kepada Allah semoga kalian tidak pernah menemukan meski mayatnya sekalipun.”

Di suatu hari selama menjadi buron, tepatnya di malam hari pelaksanaan aksi syahid oleh Shaleh Shawi di Tel Aviv, saya terbangun karena ada ketukan pelan pada jendela kamar saya. Saya lihat ternyata dia adalah Yahya dan asy Syahid Saad Arabid dari Jalur Gaza. mereka mengenakan pakaian serba hitam dan membawa senjata mereka. Saat itu pula berkecamuk perasaan saya. Saya sangat merindukan Yahya tapi di saat yang sama saya mengkhawatirkan dia menjadi target mata-mata dan Yahudi.”

Dia melanjutkan, “Saya bukakan pintu rumah. Keduanya masuk setelah menyembunyikan jejak kakinya di luar rumah. Karena jejak sapatu keduanya nampak jelas dan dalam di tanah yang berlumpur. Setelah masuk, dia meminta saya untuk membangunkan Bara (anaknya) untuk melihatnya. Kala itu adalah pukul satu lewat tengah malam. Dia gendong Bara, dia peluk dan dia ciumi. Saya masih ingat betul, saat itu dia sangat bahagia sekali karena keberhasilan aksi kepahlawanan di Tel Aviv.”

Dia menambahkan, “Setelah meninggalkan rumah, saya segera membersikan dan merapikan rumah dari jejak kaki keduanya khawatir diserbu militer penjajah Zionis. Dan betul, pada malam itu, setelah Yahya dan Saad keluar, mereka menyerbu rumah dan melakukan intimidasi sebagaimana yang biasa kami alami.”

Keberadaannya di Gaza

Sebagian besar waktu selama menjadi buron, Yahya menghabiskannya berpindah-pindah di pegunungan Tepi Barat, di bukit-bukitnya, lembah-lembahnya dan gua-guanya. Sampai-sampai terjadi ikatan kerindungan di sana. Meskipun Jalur Gaza sempat memuliakannya dan melindunginya sekitar setahun sebelum kesyahidannya (mati syahid). Namun di hari-hari terakhir dia kembali ke pegunungan Tepi Barat.

Mengenai hal itu Ummu Bara mengatakan, “Pada bulan-bulan terakhir keberadaan kami di Jalur Gaza, Yahya menghabiskan malam Kamis setiap pekan dekat pagar pimisah, berusaha memotong-motong kawat dengan peralatan yang dia ciptakan. Dia memotong kawat-kawat tersebut tanpa memicu sirine (yang diipasang Zionis) berbunyi.”

Dia melanjutkan, “Di hari-hari terakhirnya dia berharap kembali ke Tepi Barat karena tekanan terhadapi dari penjajah Zionis dan Otoritas Palestina. Juga kerena penyebaran fotonya kepada orang-orang agar menyampaikan keberadaannya dan tidak memberikan tempat bernaung. Dia sudah terbiasa menjadi buron di pegunungan dan gua-gua di Tepi Barat, dan itulah yang tidak ada di Jalur Gaza.”

Hari Keyahidannya

Ummu Bara mengatakan, “Hari pertama kesyahidan Yahya tidak berat bagi saya sebagimana juga di hari kedua. Di hari pertama saya tidak percaya apa yang telah terjadi, meskipun kami sudah memperkirakan berita ini akan kami terima kapan saja.”

Dia melanjutkan, “Di hari kedua, tepatnya ketika saya melihat jasad Yahya yang diusung di atas pundak orang-orang, saya melihatnya sebagai pandangan perpisahan di depan gelombang manusia. Saya berteriak dan berkata: hari ini saya melihatmu secara terang-terangan di depan semua manusia. Aduhai, alangkah sedangnya bila kau masih hidup dan aku melihatmu meskipun dalam sembunyi-sembunyi.”

Dengan linangan air mata penuh kesedihan karena perpisahan dia mengatakan, “Saya berharap bisa mati syahid bersama Yahya. Suatu kali saya pernah berdoa di depannya, agar suatu hari kami, saya, dia dan Bara mati syahid bersama-sama. Namun dia justru mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa: Ya Allah jangan Engkau kabulkan untuknya, ambillah aku sebagai mati syahid sendirian. Biarkanlah Ummu Bara tetap hidup untuk mendidik kedua anak ini.”

Tiga hari setelah kesyahidan suaminya, ummu Bara banyak menangis. Dia menolak kembali ke Tepi Barat. Di Gaza dia mendapatkan kasih sayang, cinta dan dekapan hangat untuk dirinya, Yahya dan Bara serta anak bayinya “Yahya”, yang lahir ke dunia sepekan sebelum kepergian sang ayah. Namun akhirnya dia kembali ke Tepi Barat dan melanjutkan tugasnya mendidik anak-anaknya. Yang hari ini dia lihat di depan kedua matanya sebagai pemuda yang sosoknya mirip dengan ayah mereka.
sumber