Rabu, 20 November 2013

Pakar Asal Indonesia Ini Bisa Menjebol Sistem Satelit

Jim Geovedi, Hacker Indonesia yang mampu retas satelit (pediakita.com)
Di dunia maya dan komunitas hacker, nama Jim Geovedi, sudah tak asing lagi. Dia merupakan ahli keamanan sistem teknologi dengan reputasi dunia. Jim tidak hanya sanggup meretas sistem komputer milik perusahaan atau individu, dia juga mampu mencuri data-data penting seperti lalu lintas transaksi bank, laporan keuangan perusahaan atau bahkan mengamati sistem pertahanan negara.


Laman Deutsche Welle yang pernah mewawancarainya beberapa waktu lalu, bahkan mengutip, Jim sanggup meretas satelit. Tidak tanggung-tanggung, dia saat itu meretas satelit milik Indonesia dan Negeri Tirai Bambu.

"Satelit itu sistemnya cukup unik. Orang yang bisa mengontrol satelit harus tahu A sampai Z tentang isi satelit tersebut. Satu-satunya cara adalah Anda harus masuk ke ruang operator atau berada dalam situasi kerja sang operator (dengan meretasnya-red)."
"Dari sana Anda akan memahami semua hal (mengenai satelit itu-red): seperti kapan satelit ini diluncurkan, bagaimana cara kendalinya, dan sistem apa yang digunakan," ungkap Jim memaparkan cara kerja untuk meretas salah satu alat komunikasi tersebut.

Dengan cara itu, Jim mengaku sanggup mengubah arah gerak atau bahkan menggeser posisi satelit. "Satelit yang saya hack itu milik klien saya," ujar Jim sambil tertawa. Saat itu, dia diminta untuk menguji sistem keamanan kontrol satelit.

"Saat itu saya melihat, Oh ini ada kemungkinan untuk digeser atau dirotasi sedikit. Lalu ya saya geser dan itu membuat mereka panik karena agak sulit mengembalikan satelit itu ke orbit. Untung mereka punya bahan bakar ekstra," kata Jim.

Dia mengaku satelit asal China bisa digeser, sementara satelit Indonesia diubah rotasinya. Tak banyak memang, peretas seperti Jim. Dengan kemampuannya itu, Jim mengaku sudah melanglang berbagai kota di dunia seperti Berlin, Amsterdam, Paris, Torino hingga Krakow.

Jim hadir di kota tersebut untuk menjadi pembicara pertemuan para hacker internasional yang sering dibalut dengan nama seminar sistem keamanan. Di sana, Jim kerap memperagakan cara untuk meretas satelit.

Jim mulai merintis karier di bidang teknologi informasi (TI) bukan dari bangku sekolah. Dia bahkan mengaku mempelajari ilmu TI secara otodidak.

Lulus SMA, Jim menjalani kehidupan keras di Bandar Lampung sebagai seniman grafis. Seorang pendeta, kemudian mengenalkan dia dengan komputer dan internet.

Namun, Jim mengaku tidak pernah menghack. Dia banyak dibayar untuk melakukan uji coba sistem keamanan. "Kalaupun saya pernah menghack, maka saya tidak akan pernah mengungkapkannya dalam wawancara," kata dia.

Jim membangun reputasinya di dunia TI dengan cara banyak bergaul dengan para hacker dunia ketimbang Indonesia. Dari sana, dia sering diundang menjadi pembicara seminar atau diwawancara media internasional.

Indonesia pun mulai melirik potensi besar anak bangsa itu. "Tahun 2004, saya diminta membantu Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk mencari pelaku di balik aksi peretasan terhadap data pusat penghitungan suara pemilu," ucapnya.

Berkat usahanya, seorang hacker kemudian berhasil digrebek.
Kariernya kian menanjak ketika di tahun 2003 silam, di saat teknologi wireless baru masuk Indonesia, Jim malah sudah menjadi pembicara mengenai subjek itu di Kuala Lumpur.

"Tahun 2006, saya sudah diminta menjadi pembicara isu sistem keamanan satelit dan itu yang mungkin membuat nama saya naik," kata dia.

Kini, Jim yang bermukim di London sejak tahun 2012, telah mendirikan bisnis sendiri dengan mendirikan perusahaan jasa sistem keamanan TI bersama seorang rekan. Dia menangani para klien yang membutuhkan jasa pengamanan sistem satelit, perbankan dan telekomunikasi.

Sejak dua tahun terakhir, dia sibuk mengembangkan
artificial intelligence komputer. Namun, dengan seabrek pencapaian, Jim menolak disebut sebagai ahli.

Dia lebih suka menganggap dirinya sebagai pengamat atau kadang-kadang partisipan aktif dalam seni mengawasi dari tempat yang jauh. Jim pun mengaku tidak berminat menggunakan kemampuannya demi mencari materi semata.

"Saya termasuk orang yang bersyukur atas apa yang saya punya. Kalau mau, saya bisa memodifikasi semua transaksi keuangan. Saya tidak punya interest berlebihan soal materi," ujar Jim.