Sabtu, 30 November 2013

Siswa SMA Ciptakan Alat Tes Baso Berboraks


 
Chrisna (kiri) menjelaskan cara kerja soraks Detector kepada para pengunjung stan NYIA LIPI. (Titania Febrianti/NGI)

Chrisna Ocvatika berdiri sambil memegang sebuah alat di tangannya, di salah satu stan yang disediakan bagi para finalis National Young Inventors Award (NYIA) yang diselenggaraan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, pertengahan November 2013.


Bersama rekannya Estika Tri Hadiani, kedua pelajar SMAN 2 Kota Semarang ini menciptakan Soraks Detector, yaitu alat pendeteksi kandungan boraks yang terkandung di dalam makanan, tanpa menggunakan proses kimia. Menurut kedua siswi ini, boraks adalah senyawa kimia yang sangat berbahaya jika terhirup, termakan, atau mengenai kulit karena dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan dalam jangka pendek dapat menyebabkan rasa mual, pusing, dan diare, bahkan kematian pada paparan jangka panjang.

Soraks Detector terdiri dari baterai, alat sensor dan kabel tembaga, serta indikator LED. (Titania Febrianti/NGI)

Mereka menciptakan alat ini karena terinspirasi dari tayangan acara televisi yang bersifat investigatif. “Daripada harus dibawa ke lab, dan makan banyak biaya serta waktu, mengapa tak ciptakan sendiri alat pendeteksinya?” ujar Chrisna.

“Baso harus dalam keadaan kering saat alat ini ditusukkan”, lanjutnya sambil memperagakan cara penggunaan.  Dalam dua detik, indikator LED yang terdapat dalam alat tersebut akan menyala.

Jika LED hijau yang menyala, maka daging bebas dari boraks. Namun jika LED merah yang menyala, maka Anda harus waspada.

Alat ini melibatkan hantaran sumber listrik yang berasal dari baterai, kemudian akan membandingkan hambatan yang diterima dari daging, dengan hambatan yang ditentukan terlebih dahulu sebagai acuan kandungan boraks. Besaran hambatan ini akan menentukan apakah daging tersebut mengandung boraks atau bebas dari zat tersebut, yang tergambar dalam nyala LED.

(Titania Febrianti)