Kamis, 10 April 2014

Pembuat Mobil Listrik: Saya Akan Terus Berkarya untuk Indonesia


 Menteri BUMN Dahlan Iskan Bersama Ricky Elson dan mobil Listrik Selo. Foto: Dok 
Menteri BUMN Dahlan Iskan Bersama Ricky Elson dan mobil Listrik Selo. Foto: Dok
Meski mendapatkan ilmu di Jepang dan menjadi salah satu orang Indonesia yang sukses di sana, pembuat mobil listrik Ricky Elson, masih sangat mencintai tanah airnya.

Pada JPNN ia pun mengklarifikasi mengenai rencana kepulangannya ke Jepang yang disebut karena kecewa izin mobil listrik buatannya tak kunjung keluar.


"Indonesia tak butuh saya. Justru saya yang butuh Indonesia. Berita soal saya kecewa dan merasa tak dihargai, itu tidak benar. Justru saya masih sangat bersemangat, berkarya untuk tanah air," kata Ricky saat dikonfirmasi, Kamis (10/4).

Namun Ricky tidak membantah, bila pimpinan tempatnya bekerja di Jepang, memang terus menawarinya pulang ke negeri Sakura. Di sana Ricky memang bukan karyawan biasa. Ia menjabat sebagai kepala Divisi penelitian dan pengembangan teknologi permanen magnet motor dan generator NIDEC Coorporation, Kyoto, Minamiku-kuzetonoshiro cho388, Jepang.

Putra asli Padang kelahiran tahun 1980 ini, menjadi salah satu kebanggaan para dosen dan tempatnya bekerja. Dari tangannya telah dihasilkan sekitar 14 teori mengenai motor listrik. Semua teori itu telah dipatenkan oleh pemerintah Jepang atas namanya.

"Memang atasan saya menelpon dan memberi tenggat waktu sebelum habis April, saya diharapkan bisa kembali ke Jepang. Tapi untuk mengambil keputusan itu, saya masih harus berdiskusi dulu dengan Pak Dahlan Iskan," kata Ricky.

Bagi Ricky, sosok Dahlan memang bukan sebatas seorang Menteri. Berkat Dahlan-lah, Ricky yang telah 14 tahun hidup di Jepang, bersemangat untuk kembali ke Indonesia guna mengembangkan mobil listrik. Hingga dari kreasi mereka, lahirnya mobil listrik bernama Tucuxi, Selo dan Gendhis. Meski hingga saat ini, izin mobil listrik itu tak kunjung keluar.

"Namun saya ke Indonesia, bukan hanya karena ada Pak Dahlan. Tapi karena memang niat saya ingin kembali mengabdi ke Indonesia. Kalaupun saya kembali (ke Jepang), bukan karena saya kecewa atau tidak dihargai di Indonesia. Justru saya merasa sangat dihargai. Apapun yang terjadi (dengan izin mobil listrik), saya akan terus berusaha membuat mobil listrik," tegas Ricky.

Tawaran kembali ke negeri Sakura, memang menjadi dilema tersendiri bagi Ricky. Di satu sisi, ia merasa memiliki tanggungjawab untuk terus mengembangkan ilmu dan kemampuannya. Semua itu hanya bisa didapatkannya bila berada di Jepang, negara yang sudah maju di bidang teknologi.

Sementara di sisi lain, Ricky juga sangat mencintai Indonesia, tanah kelahirannya. Hal itu ditunjukan Ricky dengan berkeliling nusantara memberikan kuliah khusus ke berbagai kampus. Pemuda cerdas ini juga terus melakukan berbagai penelitian dan mengembangkan pembangkit listrik di daerah-daerah pedalaman.

"Sebenarnya di Indonesia tidak ada yang kurang. Justru kita jauh lebih pintar dari negara-negara lainnya. Hanya saja disini kita tidak ada kesatuan visi. Kita tidak bersaing dengan negara lain, tapi justru bersaing dengan persoalan bangsa kita sendiri. Saling menjatuhkan dan tidak bisa bersaing sehat. Ini yang membuat kita tertinggal khususnya di bidang teknologi dengan bangsa lainnya," kata Ricky menjelaskan.

Perihal izin mobil listrik yang tak kunjung keluar, Ricky menilai semuanya masih sesuai koridor. Meski harus diakui, prosedur izin mobil listrik di Indonesia, lebih rumit bila dibandingkan dengan Jepang.

"Tapi secara umum saya menilainya masih on the track. Kondisi ini bagi saya bukan suatu keterlambatan. Saya tidak pernah memburu mobil itu harus siap kapan. Karena kalaupun izin keluar hari ini, Indonesia belum siap secara keseluruhan. Mobil listrik yang kita ciptakan, masih belum layak disebut produk. Tapi masih sebatas riset," ungkap Ricky.

Bila dibandingkan Jepang, mereka sudah memiliki road map yang jelas untuk mengembangkan mobil listrik. Sedangkan di Indonesia, penggunaan mobil listrik masih belum didukung lembaga riset dan teknologi yang memadai.

"Di kita mungkin baru siap untuk 10-20 tahun mendatang. Karena semuanya harus disetarakan dulu. Kalaupun akhirnya izin keluar tapi infrastruktur belum ada, tetap saja percuma. Meski begitu, soal izin tentunya penting agar bisa lanjut ke tahapan berikutnya," kata Ricky.

Jika memang tak kecewa, apakah Ricky tetap akan kembali ke Jepang dan meninggalkan mimpi bersama Dahlan Iskan, untuk mengembangkan mobil listrik buatan asli anak Indonesia?

"Saya ini tidak ada apa-apanya. Banyak sekali orang pintar Indonesia yang jauh lebih pintar dari saya. Soal saya ke Jepang atau tidak, itu harus saya diskusikan dulu dengan Pak Dahlan Iskan. Terlalu terburu-buru untuk diberitakan saat ini," kata Ricky menutup perbincangan.(afz/jpnn)