Jumat, 25 April 2014

Kisah Guru Muda Program Indonesia Mengajar

Siang itu, Rabu, 20 Oktober sekira pukul 11.30, Erwin Puspaningtyas Irjayanti tak henti-hentinya tersenyum. Sesekali ia menoleh ke arah Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan yang sedang menjelaskan program Indonesia Mengajar pada para wartawan yang memenuhi Essambly Hall Plaza Bapindo, Jakarta.


Bersama 50 rekannya, gadis berjilbab ini mengikuti program yang akan mengantarkannya hidup di desa terpencil sebagai pengajar muda selama setahun. Pengajar yang berusia maksimal 25 tahun ini akan ditempatkan di lima kabupaten, yakni Majene, Sulawesi Barat, Bengkalis, Riau, Tulang Bawang Barat, Lampung, Paser, Kaltim, dan Halmahera Selatan, Maluku Utara.


Erwin adalah penulis berbakat. Novelnya berjudul “Sebuah Penantian” dan “Hati yang Terluka” pernah menjadi best seller di tahun 2008. Pada tahun 2006, novelnya yang berjudul “Hot Chocolate Love” diterbitkan Penerbit Puspa Swara dengan menggunakan nama pena Anisa Salsabila. Bulan Juli lalu, sebuah penerbit di Malaysia membeli lisensi novel ini untuk diterbitkan di negaranya.


Gadis asal Klaten Jawa Tengah ini menyelesaikan studinya di Institut Pertanian Bogor (IPB) Fakultas Kehutanan jurusan Teknologi Hasil Hutan tahun 2009 dengan IPK 3,41. Erwin juga punya karier cemerlang di sebuah bank. Terakhir jabatannya adalah Sales Manager Area Bank Mandiri Pondok Indah Jakarta Selatan.


Tapi, semua kesuksesan itu bukanlah segalanya buat Erwin. Saat mendengar rencana pengiriman 51 pengajar muda ke daerah terpencil, Erwin pun terpanggil. Ia rela meninggalkan gaji tinggi di Bank Mandiri, dan kegiatan menulis yang tentunya menghasilkan materi yang sangat besar. “Ini panggilan jiwa,” kata Erwin yang akan mengajar di Apoang, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.


Lain lagi dengan Adeline Magdalena Sutanto. Aline, panggilan akrabnya, awalnya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Maklum dia merupakan pelajar berprestasi di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,59.


Sebelumnya Aline aktif di organisasi mahasiswa dalam dan luar negeri. Salah satunya adalah Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang yang berkontribusi menjalin hubungan international. Di program Indonesia Mengajar, Aline akan ditempatkan di Totolisi, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulbar.


Ayu Kartika Dewi, anggota pengajar muda lainnya, juga punya cerita tak kalah menarik. Ia merupakan salah satu lulusan terbaik Universitas Airlangga Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen dengan IPK 3,6.

Sebelumnya, Ayu bekerja di P&G Singapore dengan gaji tinggi. Namun. semangat ingin mengabdi kepada bangsa membuatnya rela meninggalkan semua kemewahan di Singapura.

Bagus Arya Wirapati, pengajar muda lainnya mengaku makin giat berolahraga. “Katanya nanti saya akan ditempatkan di pegunungan yang tak cocok buat tubuh saya gemuk. Makanya saya terus berolahraga, sekarang berat tubuh saya mulai turun,” kata Roy, sapaannya.


Alumni Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia Fakultas Ekonomi jurusan Ilmu Ekonomi ini awalnya bekerja sebagai Asisten Peneliti Bank Indonesia. Idenya mengenai pemuda koperasi diakui World Bank sebagai salah satu ide terbaik.


Ia mengaku sering kali berpikir tidak siap menjadi guru di daerah terpencil. Hingga suatu ketika di pelatihan, usai praktik mengajar di sebuah SD, Roy mendapat ucapan salam dari murid-murid. “Da...da kak Roy, da...da kak Roy. Kata-kata mereka membuat saya yakin bahwa saya harus mengabdi,” terang Roy.


Harapan Bangsa


Guru adalah ujung tombak memajukan pendidikan. Tapi, faktanya, selama enam dekade perjalanan bangsa ini, nasib guru seolah terpinggirkan. Tidak mengherankan jika 66 persen sekolah-sekolah di Indonesia terutama daerah terpencil kekurangan tenaga guru (Data Mendiknas 2010).


Banyak faktor yang menyebabkan kita kekurangan guru. Di antaranya adalah gaji guru yang rendah, dan kurangnya kebanggaan berpredikat sebagai tenaga pengajar. Padahal, hampir semua pejuang kemerdakaan Indonesia pernah berkarier sebagai guru. Sebut saja Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, hingga Jenderal Sudirman pernah menjadi seorang pengajar.


Penggagas Indonesia Mengajar mengatakan, ke-51 pengajar muda ini merupakan harapan bangsa. Pengalaman setahun mengajar di daerah terpencil diharapkan memberi inspirasi seumur hidup. “Nanti setelah mereka kembali, pengalaman ini menjadi spirit bahwa mereka pernah benar-benar mengabdi untuk bangsa. Harapannya, alumni pengajar muda akan lebih punya semangat membangun Indonesia,” jelas Anies.


Anies mengatakan, gerakan Indonesia Mengajar mengirim 51 guru yang diambil dari universitas terkemuka di Indonesia. Rinciaannya, ITB sebanyak 15 orang, UI (13), UGM (7), Unair (5), IPB (3), Unpad (3), Undip (3), Universitas Paramadina (1), ITS (1), dan Unhas (1).


Setelah angkatan 2010 ini menyelesaikan tugasnya, program Indonesia Mengajar akan mengirim pengganti. “Kami sengaja memberikan hanya setahun, agar anak muda lain punya kesempatan sama,” kata Anies.


Mereka akan digaji di atas Rp 3 juta. Semuanya adalah tanggung jawab dari Indonesia Mengajar yang disponsori tiga perusahaan besar, dan juga individu-individu yang peduli dengan masalah ini.

Sebenarnya, kata Anis, gaji yang mereka dapatkan rendah dibanding tempat mereka bekerja dulu. “Gaji ini terbilang kecil, karena ada di antara mereka yang pernah digaji dolar di Singapura,” jelas Anis.

Banyak pertanyaan apakah mereka siap menjadi guru? Namun, Anies menjaminnya lewat pelatihan selama enam minggu di Modern Training Centre, Ciawi, Bogor Jawa Barat. “Konsep pelatihannya sangat beda. Pada malam hari, kami sengaja mematikan lampu satu kompleks agar mereka bisa beradaptasi hidup tanpa listrik layaknya di desa terpencil. Namun yang terpenting orientasi mereka bukan lagi gaji dan karier, tapi pengabdian,” tandasnya. (*)